Peringatan Bulan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Nasional:

Lingkungan kerja yang aman skenario `win-win` untuk pekerja dan pengusaha

Jumat, 02 Februari 2018 13:01

 Michiko Miyamoto, Direktur ILO di Indonesia. Foto: Istimewa Michiko Miyamoto, Direktur ILO di Indonesia. Foto: Istimewa

Dalam memperingati Bulan Keselamatan dan Kesehatan (K3) Nasional yang saat ini sedang berlangsung, elshinta.com melakukan wawancara dengan Michiko Miyamoto, Direktur ILO di Indonesia.

ILO merupakan lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang khusus menangani masalah perburuhan dan ketenagakerjaan. Salah satu satu mandat utama ILO adalah memastikan terwujudnya kepatuhan dan budaya K3 di seluruh negara anggotanya, termasuk Indonesia.

Berikut wawancara elshinta.com (E) dengan Michiko Miyamoto (MM):

E: Mengapa masalah K3 menjadi sangat penting untuk dunia kerja?

MM: Setiap hari 7.600 orang meninggal dunia karena kecelakaan dan penyakit akibat kerja, atau sekitar 2,78 juta orang per tahunnya. Di kawasan Asia Pasifik diperkirakan sekitar 1,8 juta. Selain itu, terdapat sekitar 347 juta cedera dan penyakit kerja yang tidak fatal setiap tahunnya yang banyak mengakibatkan absensi kerja.

Biaya tenaga kerja akibat terbengkalainya K3 sangat besar dan bahkan diperkirakan dampak perekonomian global mencapai 4 persen dari PDB global per tahun. Hal ini akan sangat merugikan tidak hanya bagi pekerja namun juga pengusaha dan perekonomian secara umum. Tragedi-tragedi seperti sebenarnya dapat dihindari melalui penerapan praktik-praktik pencegahan, pengawasan dan pelaporan yang baik.

E: Apa yang telah dilakukan ILO untuk memastikan K3 di tempat kerja?

MM: Isu K3 ini telah menjadi perhatian utama ILO sejak pertama kali berdiri pada 1919 yang tertuang dengan jelas di dalam Konstitusi ILO dan Deklarasi Philadelphia pada 1944 yang menegaskan tugas ILO untuk memberikan perlindungan kepada kehidupan dan kesehatan semua pekerja dalam semua bentuk pekerjaan.

ILO telah mengadopsi lebih dari 40 standar yang khusus terkait dengan K3 serta telah mengeluarkan lebih dari 40 Kaidah yang membahas mengenai K3 di berbagai sektor seperti pertanian, pertambangan, industri, perkapalan termasuk kaidah terkait dengan penggunaan mesin, disabilitas, HIV dan AIDS.

E: Bagaimana peran pekerja dan pengusaha dalam memastikan pelaksanaan budaya dan kepatuhan K3 ini?

MM: Pekerja, termasuk melalui perwakilan mereka, memiliki peran penting dalam memastikan praktik kerja yang aman di tempat kerja. Para pekerja dan perwakilannya harus diberikan informasi yang cukup mengenai langkah-langkah keselamatan yang harus dilakukan dan diberikan pelatihan. Mereka juga harus menyadari bahwa pekerjaan yang sehat dan aman adalah hak dasar mereka.

Perusahaan pun berperan dalam memastikan prinsip-prinsip yang tertuang di dalam standar dan Kaidah tersebut. Deklarasi Perusahaan Multinasional (MNE Declaration) ILO menyerukan pemerintah untuk memastikan perusahaan multinasional dan nasional untuk memberikan standar K3 yang memadai bagi para pekerjanya. Tidak hanya perusahaan multinasional, perusahaan menengah dan kecil pun harus menyadari kewajiban mereka menyediakan tempat kerja yang aman dan sehat sesuai dengan peraturan di tingkat nasional. Perusahan pun harus memberikan informasi mengenai risiko terkait dengan pekerjaan dan memberikan perlindungan yang diperlukan dalam proses kerja.

E: Bagaimana dengan penerapan K3 dalam dunia kerja yang sedang berubah ini di masa depan?

MM: Kita sangat perlu mengantisipasi dampak dari pekerjaan masa depan dan cara bagaimana dunia usaha atau organisasi bekerja akan berdampak pada keselamatan dan kesehatan pekerja. Untukitu, ILO mendorong pendekatan berbasis pencegahan proaktif untuk meningkatkan upaya K3, sejalan dengan Konvensi utama ILO No. 155 dan 187 yang tertuang di dalam kerangka Inisiatif Pekerjaan Masa Depan.

Untuk mencapai pekerjaan masa depan yang kita impikan, kita harus memberdayakan keterampilan 40 juta orang muda sebagai generasi mendatang yang memasuki dunia kerja setiap tahunnya. Mereka merupakan generasi dengan pendidikan terbaik. Kreativitas, energi dan keterampilan mereka dapat menghasilkan dividen demografi yang tinggi. Karenanya ini membutuhkan investasi dalam ketenagakerjaan muda – pekerjaan layak bagi kaum muda di mana budaya keselamatan dan kesehatan merupakan sebuah keharusan.

E: Dukungan seperti apa yang diberikan ILO kepada negara-negara anggotanya, termasuk Indonesia?

MM: Untuk memastikan tindakan-tindakan keselamatan di tempat kerja guna meningkatkan perlindungan terhadap kesehatan dan kehidupan semua pekerja dari bahaya. ILO terus mendukung upaya-upaya Negara anggota dalam memperkuat kapasitas mereka untuk mencegah kecelakaan dan penyakit akibat kerja. ILO di Indonesia mengutamakan K3 ke dalam semua program dan kegiatan yang ada di bawah kantor ILO Indonesia. Melalui program-program ini ILO ingin menegaskan bahwa lingkungan kerja yang aman merupakan skenario win-win solution bagi pengusaha dan pekerja.

REDAKSI-DER

Baca Juga

Komentar