Peringatan Bulan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) Nasional:

Semua pekerja berhak atas perlindungan K3

Kamis, 01 Februari 2018 17:16

Valentine Offenloch, Staf ILO Jenewa untuk Proyek Global SafeYouth@Work. Foto: Istimewa Valentine Offenloch, Staf ILO Jenewa untuk Proyek Global SafeYouth@Work. Foto: Istimewa

Dalam diskusi interaktif mengenai keselamatan dan kesehatan kerja (K3) yang diselenggarakan Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) bersama dengan Dewan K3 Nasional (DK3N), Valentine Offenloch, Staf ILO Jenewa untuk Proyek Global SafeYouth@Work menegaskan bahwa isu K3 sudah menjadi pembahasan sejak 200 tahun lalu, saat revolusi industri di mana pekerjaan bergeser dari pertanian ke industri pabrik.

“Isu K3 ini bahkan telah menjadi perhatian utama ILO sejak pertama kali berdiri pada 1919 yang tertuang dengan jelas di dalam Konstitusi ILO dan Deklarasi Philadelphia pada 1944 yang menegaskan kewajiban ILO untuk memberikan perlindungan kepada kehidupan dan kesehatan semua pekerja dalam semua bentuk pekerjaan,“ ujar Valentine dalam pemaparannya saat diskusi interaktif bertajuk “Waspada Bahaya di Tempat Kerja, Saatnya Sadar K3“, di Jakarta, pada Rabu (31/1).

Guna memastikan perlindungan di tempat kerja, ia mengingatkan bahwa prinsip-prinsip K3 utama yang mencakup pentingnya penyusunan dan penerapan kebijakan K3 di tingkat nasional dan perusahaan, serta pentingnya pemahaman dan penyebarluasan kebijakan tersebut. Selain itu, diperlukan juga pembentukan, penerapan dan pemantauan secara teratur Sistem dan Program K3 Nasional, yang melibatkan semua pemangku kepentingan.

“Kebijakan, sistem dan program K3 tersebut harus mendorong upaya pencegahan dan peningkatan kesadaran guna memastikan keefektivannya. Yang juga penting adalah pengumpulan dan pelaporan data dan informasi K3 yang akurat mengenai bahaya, kepatuhan tempat kerja dan praktik kerja yang baik,” ia menjelaskan.

Valentine juga menggarisbawahi pentingnya masalah kesehatan kerja sebagai bagian dari K3 yang memastikan kesehatan fisik, mental, dan sosial semua pekerja, termasuk pekerja muda. Untuk itu, harus dipikirkan mekanisme kompensasi, perawatan, dan rehabilitasi yang tersedia bagi semua pekerja yang mengalami cedera dan penyakit akibat kerja.

Dalam pemaparannya, ia menjelaskan mengenai berbagai perangkat K3 ILO yang mencakup Standar Internasional Kerja, Kaidah dan Panduan, materi pelatihan serta materi informasi. Tiga Konvensi utama ILO terkait K3 adalah Konvensi No. 155 mengenai K3, Konvensi No. 161 mengenai Jasa Kesehatan Kerja dan Konvensi No. 187 mengenai Kerangka Promosional Konvensi K3.

“Delapan puluh persen dari standar dan perangkat ILO membahas mengenai K3 secara sepenuhnya atau sebagian,” kata Valentine menegaskan pentingnya isu K3 ini bagi ILO sebagai badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang khusus menangani masalah perburuhan dan ketenagakerjaan.

Selanjutnya, ia menjelaskan mengenai manfaat dari peratifikasian Konvensi-konvensi ILO tersebut bagi negara anggota seperti Indonesia.

“Indonesia dapat memperkuat Sistem K3 Nasional yang dapat semakin meningkatkan daya saing negara ini di tingkat global. Ini juga dapat meningkatkan jaring pengaman nasional Indonesia dan memastikan distribusi manfaat pertumbuhan ekonomi yang terjadi,” ujar dia.

Ia pun menambahkan, Indonesia pun dapat memastikan bahwa peraturan ketenagakerjaan nasionalnya sesuai dan sejalan dengan standar-standar internasional. Dan ratifikasi ini dapat memperkuat keterlibatan tripartit dan masyarakat. Untuk itu, ia memyambut baik upaya pemerintah Indonesia yang berusaha mencapai Budaya Kepatuhan K3 pada 2020 dengan mengaktifkan kembali DK3N.

Menutup pemaparannya pada acara tersebut, Valentine mengingatkan bahwa dalam lebih dari 2,78 juta orang meninggal di dunia setiap tahun akibat kecelakaan atau penyakit akibat kerja, dengan sekitar 1,8 juta di antaranya terjadi di kawasan Asia dan Pasifik.

“Ini merupakan kematian yang sepenuhnya dapat dicegah dan dihindari,” tegasnya.

Artikel ini merupakan bagian dari upaya ILO mempromosikan pentingnya K3 bagi dunia kerja dan bagi masyarakat umum. Artikel ini pun merupakan bagian dari kampanye ILO dan para mitranya untuk menciptakan kesadaran secara mendunia mengenai dimensi dan dampak dari kecelakaan, cedera, dan penyakit akibat kerja.

REDAKSI-DER

Baca Juga

Komentar