Peringatan Bulan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Nasional:

ILO gelar Tahun Kampanye K3 2018 untuk wujudkan budaya K3 di tempat kerja

Kamis, 01 Februari 2018 14:00

Staf Program ILO di Indonesia, Lusiani Julia. Foto: Istimewa Staf Program ILO di Indonesia, Lusiani Julia. Foto: Istimewa

Dalam memperingati Bulan Keselamatan dan Kesehatan (K3) Nasional yang saat ini sedang berlangsung, elshinta.com melakukan wawancara dengan Lusiani Julia, Staf Program ILO di Indonesia.

ILO merupakan lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang khusus menangani masalah perburuhan dan ketenagakerjaan. Salah satu satu mandat utama ILO adalah memastikan terwujudnya kepatuhan dan budaya K3 di seluruh negara anggotanya, termasuk Indonesia.

Berikut wawancara elshinta.com (E) dengan Lusiani Julia (LJ):

E: Program-program K3 apa saja yang sudah dijalankan oleh ILO bersama para mitranya dalam memastikan pentingnya kesadaran K3 di tempat kerja, terutama di Indonesia?

LJ: ILO sebagai salah satu badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang khusus menangani masalah ketenagakerjaan memiliki sifat tripartit. Artinya, ILO mendukung dan mempromosikan program dan kegiatan dari ketiga aktor utama ketenagakerjaan: pemerintah, pengusaha dan pekerja. K3 menjadi salah satu prioritas yang disepakati oleh ILO dan pihak tripartit di Indonesia. 

Secara umum, ILO bersama mitra tripartitnya berupaya memperkuat kesadaran mengenai pentingnya K3 di kalangan pekerja dan pengusaha serta membantu pemerintah dalam mensosialisakan peraturan-peraturan terkait K3 serta memberikan saran dan masukan kepada pemerintah dalam penyusunan kebijakan di bidang K3.

Secara khusus, ILO telah mencanangkan tahun 2018 sebagai Tahun Kampanye K3 dengan perhatian khusus pada isu-isu seperti kesadaran K3 bagi kaum muda yang berada di sektor konstruksi dan memperluas pemahaman mengenai K3 bagi pekerja rumah tangga serta pekerja dalam rantai pasokan global seperti garmen dan perkebunan/kelapa sawit. Selain itu juga berupaya menumbuhkan kseadaran K3 di sektor perikanan dan perusahaan skala kecil menengah.

E: Apa tujuan dari program-program tersebut?

LJ: Tujuan utama dari program-program ini adalah membangun kesadaran dan pemahaman mengenai pentingnya K3 tidak hanya bagi pekerja maupun pengusaha tadi tapi juga bagi masyarakat luas. Selain itu, program-program ini berupaya mendorong pemerintah menjalankan aturan-aturan mengenai K3 secara lebih tegas dengan aktif melibatkan pekerja, pengusaha, dan masyarakat.

Tujuan dari program-program tersebut juga untuk memastikan bahwa Indonesia akan memiliki budaya K3 pada 2020 seperti yang dicanangkan pemerintah serta memberikan pondasi untuk keberhasilan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) sebagaimana dicanangkan oleh PBB pada 2030, di mana Tujuan 8 dari SDG adalah mengenai pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, dengan fokus pada pengurangan angka kecelakaan dan kematian akibat kerja.

E: Sumber-sumber informasi K3 apa saja yang tersedia untuk membantu meningkatkan kesadaran?

LJ: Salah satu tugas ILO adalah menetapkan standar-standar ketenagakerjaan internasional baik dalam bentuk konvensi ataupun rekomendasi. Standar internasional ini dapat dijadikan rujukan bagi Negara-negara anggota dalam membuat aturan-aturan di tingkat nasional dan bagaimana secara efektif melaksanakannya. Dalam bidang K3, cukup banyak konvensi ILO yang terkait dengan hal ini. Baru-baru ini Indonesia telah meratifikasi Konvensi ILO No.187 mengenai Kerangka Promosional K3, yang mendorong negara anggota untuk memiliki kebijakan, sistem dan program K3 nasional.

Masih banyak standar-standar internasional lainnya yang dapat dijadikan rujukan, termasuk panduan-panduan dan hasil-hasil riset serta penelitian yang dilakukan oleh ILO. Selain itu, ILO juga mendorong setiap negara anggota untuk memiliki sistem pengumpulan dan pengolahan data K3 untuk menunjukkan bukti konkrit mengenai pentingnya K3 dan dampak ekonomis terhadap kepatuhan pada K3 melalui data-data yang tersedia.

E: Apa harapan ILO mengenai K3 ini di masa mendatang?

LJ: Untuk mencapai pekerjaan masa depan yang kita impikan, kita harus memberdayakan keterampilan 40 juta orang muda yang memasuki dunia kerja setiap tahunnya. Mereka merupakan generasi dengan pendidikan terbaik. Kreativitas, energi dan keterampilan mereka dapat menghasilkan dividen demografi yang tinggi. Karenanya ini membutuhkan investasi dalam ketenagakerjaan muda – pekerjaan layak bagi kaum muda di mana budaya keselamatan dan kesehatan merupakan sebuah keharusan.

Selain itu, kita perlu mengantisipasi dampak dari pekerjaan masa depan dan cara bagaimana suatu organisasi bekerja akan berdampak pada keselamatan dan kesehatan pekerja serta lingkungan kerjanya. Untuk itu, ILO mendorong pendekatan berbasis pencegahan proaktif untuk meningkatkan upaya K3, sejalan dengan Konvensi utama ILO No. 155 dan 187. Untuk itu, ILO mendorong negara-negara anggotanya untuk meratifikasi kedua konvensi tersebut sehingga ada universalitas dalam menetapkan aturan-aturan K3 di semua tempat kerja di dunia.

REDAKSI-DER

Baca Juga

Komentar