Peringatan Bulan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) Nasional:

Pekerjaan yang aman dan sehat, pondasi pembangunan berkelanjutan

Selasa, 30 Januari 2018 14:55

Direktur Jenderal ILO, Guy Ryder. Sumber foto: ILO Direktur Jenderal ILO, Guy Ryder. Sumber foto: ILO

Pekerjaan yang aman dan sehat merupakan hak asasi dasar dan merupakan pondasi bagi pembangunan yang berkelanjutan. Namun, yang memprihatinkan, 2,78 juta pekerja masih mengalami kematian setiap tahunnya karena cedera dan penyakit akibat kerja, dengan jumlah terbesar (24 juta) karena penyakit akibat kerja.

Dampak perekonomian global diperkirakan mencapai 3,94 persen dari PDB global per tahun. Angka tersebut, sejalan dengan banyaknya manfaat dari praktik-praktik Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang baik, telah semakin meningkatkan desakan atas perbaikan K3 bagi semua di tempat kerja.

Dalam siaran tertulisnya kepada Elshinta, Selasa (30/1), Direktur Jenderal ILO, Guy Ryder mengatakan, jumlah kematian manusia karena kecelakaan dan cedera akibat kerja saat ini tidak lagi dapat ditolerir dan sepenuhnya dapat dihindari. Dan karenanya, kata dia, kita harus bersama-sama membuat perubahan.

Menurut Guy Ryder, tantangan K3 merupakan tantangan global dan membutuhkan solusi-solusi global. Baru-baru ini, ILO bersama para mitranya menyelenggarakan Kongres Dunia ke-21 mengenai K3 yang menyerukan koalisi K3 secara global.

"Kita harus memberikan prioritas bagi para pekerja rentan, termasuk pekerja di sektor perekonomian formal dan pekerja migran. ILO telah menegaskan hal ini dalam laporan tahun 2016 berjudul `Pekerjaan non-standar di seluruh dunia`, dan telah menyuarakan hal ini termasuk mengenai inisiatif rekrutmen yang adil dan pengembangan United Nations Global Compact on Migration," jelas Guy Ryder.

Lebih lanjut, Guy Ryder memaparkan, ILO saat ini menguji coba metodologi untuk mengindetifikasi kerentanan K3 dalam rantai pasokan sektor pertanian dan mengembangkan kegiatan tersasar, termasuk membantu lembaga-lembaga K3 untuk memperkuat kapasitas dan melibatkan para pemangku kepentingan dalam meningkatkan sistem dan kepatuhan K3.

Menciptakan mekanisme agar dapat berbagi data K3, pengetahuan, dan keahlian serta menemukan cara untuk mempertahankan jejaring seperti ini juga sangat penting untuk menangulangi tantangan K3 yang baru.

"Selain itu, kita perlu mengantisipasi dampak dari pekerjaan masa depan dan cara bagaimana organisasi bekerja akan berdampak pada keselamatan dan kesehatan pekerja," jelasnya, seraya menyatakan bahwa untuk itu, ILO mendorong pendekatan berbasis pencegahan proaktif untuk meningkatkan upaya K3, sejalan dengan Konvensi utama ILO No. 155 dan 187 yang tertuang di dalam kerangka Inisiatif Pekerjaan Masa Depan.

"Untuk mencapai pekerjaan masa depan yang kita impikan, kita harus memberdayakan keterampilan 40 juta orang muda yang memasuki dunia kerja setiap tahunnya; mereka merupakan generasi dengan pendidikan terbaik. Kreativitas, energi, dan keterampilan mereka dapat menghasilkan dividen demografi yang tinggi. Karenanya ini membutuhkan investasi dalam ketenagakerjaan muda – pekerjaan layak bagi kaum muda di mana budaya keselamatan dan kesehatan merupakan sebuah keharusan," tandas Guy Ryder.

Informasi lebih lanjut mengenai berbagai kegiatan yang dilakukan ILO dalam mempromosikan pentingnya K3 dapat dibaca dalam International Newsletteron Occupational Safety and Health.

Artikel ini merupakan bagian dari upaya ILO untuk mempromosikan pentingnya K3 bagi dunia kerja dan bagi masyarakat umum. Artikel ini pun merupakan bagian dari kampanye ILO dan para mitranya untuk menciptakan kesadaran secara mendunia mengenai dimensi dan dampak dari kecelakaan, cedera dan penyakit akibat kerja.

REDAKSI-DER

Baca Juga

Komentar