Anak korban video porno Bandung akan dipesantrenkan

Selasa, 16 Januari 2018 15:56

Menteri PPPA, Yohana Yembisa tengah mengunjungi Mapolda Jabar, Kota Bandung, Senin (15/1l), kedatangan Menteri untuk bertemu dengan Pelaku video porno yang sempat viral di dunia maya. Sumber foto: http://bit.ly/2DmEyRE Menteri PPPA, Yohana Yembisa tengah mengunjungi Mapolda Jabar, Kota Bandung, Senin (15/1l), kedatangan Menteri untuk bertemu dengan Pelaku video porno yang sempat viral di dunia maya. Sumber foto: http://bit.ly/2DmEyRE

Tiga anak yang menjadi korban dan terlibat dalam produksi video porno dengan perempuan dewasa, akan dimasukkan ke dalam pesantren setelah menjalani rehabilitasi, kata Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pemberdayaan Masyarakat (DP3APM) Kota Bandung, Jawa Barat, Dedi Supandi.

"Setelah penyembuhan trauma selesai, kita kembalikan ke keluarga, tetapi karena kondisinya tidak ramah anak sepertinya kita tidak dulu kembalikan ke keluarga, anak-anak ini akan dibawa ke pesantren," kata Dedi di Bandung, Selasa (16/1).

Menurut Dedi anak-anak itu belum bisa dikembalikan ke rumahnya karena sebagian dari pelaku adalah keluarga, sehingga tidak mungkin anak-anak tersebut dikembalikan ke keluarga mereka. 

Dinas DP3APM Kota Bandung juga telah meminta izin kepada keluarga korban, agar mereka dibawa ke pesantren. 

"Kami sudah menyampaikan hal itu kepada neneknya, dia berharap anak-anak tersebut tetap megenyam pendidikan," kata Dedi. 

Dedi mengatakan pihak pesantren pun telah setuju dan bahkan pengelolanya telah datang ke keluarga korban. 

Dedi menolak untuk memberitahukan nama pesanten tempar anak-anak tersebut mengenyam pendidikan.

"Masih di Bandung juga, tetapi saya tidak bisa memberi tahu nama pesantren tersebut, karena ini adalah masalah perlindungan anak," kata dia. 

Ketua P2TP2A Provinsi Jawa Barat Netty H. mengatakan keadaan anak-anak tersebut yang saat ini berada di penampuang P2TP2A semakin membaik. 

"Mereka sudah mengerti konsep kebersihan diri, mereka mulai memiliki manajemen waktu, kapan mereka harus bangun, kapan mereka harus merapikan tempat tidur dan sebagainya sesuatu yang di rumah mereka sendiri tidak pernah dibiasakan," kata dia. 

Dia mengatakan selama ini anak-anak tersebut tidak pernah mendapatkan penanaman nilai budi perketi dari keluarganya.(Ant)

REDAKSI-ANK

Baca Juga

Komentar