Disdikbud kurangi kuota penerimaan guru honorer

Rabu, 10 Januari 2018 07:12

Ilustrasi. Sumber Foto: http://bit.ly/2zYrkX1 Ilustrasi. Sumber Foto: http://bit.ly/2zYrkX1

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu akan mengurangi jumlah kuota guru honorer yang direkrut daerah itu dalam waktu dekat karena terbatasnya anggaran.

Sekretaris Disdikbud Rejang Lebong Noprianto di Rejang Lebong, Rabu (10/1), mengatakan pihaknya pada tahun ini sudah merencanakan menerima 380 guru honorer dengan status tenaga kerja sukarela (TKS) guna memenuhi kekurangan guru di Rejang Lebong, tetapi jumlah itu tidak bisa direalisasikan.

"Sebelumnya kita sudah mengusulkan akan merekrut 380 guru TKS, namun setelah melihat ketersediaan anggarannya jumlah guru TKS yang akan diterima jumlahnya sebanyak 120 orang saja," kata dia.

Kuota penerimaan guru TKS tersebut, tambah dia, terpaksa mereka kurangi dari jumlah yang sudah direncanakan semula, sesuai dengan ketersediaan anggaran.

Ia mengatakan besaran honor per bulan yang akan diberikan kepada mereka nantinya berkisar Rp500 ribu hingga Rp700 ribu per bulan.

Ia mengatatakan proses seleksi penerimaan guru TKS belum diketahui pelaksanaannya. Pihaknya saat ini masih melakukan pendataan terhadap sekolah-sekolah yang membutuhkan guru honorer.

Guru TKS yang akan direkrut diutamakan guru honorer yang sudah lama bertugas di sekolah masing-masing, terutama di pelosok.

"Diutamakan adalah guru honorer yang sudah lama bertugas sehingga diharapkan mereka dapat lebih maksimal lagi menjalankan tugasnya. Jika masuk guru baru, khususnya di sekolah pinggiran, ditakutkan nantinya akan jarang masuk," ujarnya.

Adanya perlakukan khusus untuk guru honorer yang sudah lama bertugas di Rejang Lebong itu, katanya, maka dalam seleksinya, Disdikbud setempat tidak akan melihat strata pendidikan mereka. Minimal mereka lulusan SMA dan sederajat, dan sudah lama bertugas di sekolah terpencil.

Disdikbud Rejang Lebong merencanakan merekrut ratusan guru TKS guna memenuhi kekurangan tenaga guru, baik tingkat SD maupun SMP, yang tersebar di 15 kecamatan. Hal itu dilakukan menyusul banyaknya guru yang pensiun, pindah, maupun meninggal dunia. Jika mengandalkan formasi penerimaan guru PNS, jumlahnya relatif terbatas. (Ant)

REDAKSI-ANJ

Baca Juga

Komentar